• Jelajahi

    Copyright © Buser Indonesia

    Iklan

    Iklan

    Teologi Horor Pelaku Teror

    Jumat, 02 April 2021, April 02, 2021 WIB Last Updated 2021-04-03T04:50:23Z


     Teologi Horor Pelaku Teror

    Dr. Sabara Nuruddin


    buser-indonesia.com - Suasana khidmat perayaan Minggu Palma, 28 Maret 2021, di Hati Kudus Yesus Yang Maha Kudus Katedral, Makassar, tiba-tiba berubah mencekam. Saat itu, kala pagi yang sudah mulai beranjak siang, tepatnya Pukul 10.28 wita, bom meledak cukup dahsyat di trotoar depan gereja, ketika umat Katolik baru saja selesai melakukan ibadah misa kedua. Hanya dalam hitungan menit, ledakan bom di gereja tertua, sekaligus pusat keagamaan umat Katolik untuk wilayah Keuskupan Agung Makassar tersebut, sontak tersebar di media.



    Berita, foto, dan video dari lokasi kejadian memenuhi pemberitaan berbagai media. Juga, tersebar di WhatsApp.



    Peledakan bom di gereja yang terletak tepat di jantung Kota Makassar tersebut dilakukan oleh dua orang pelaku, yang disebut pasangan suami-istri yang masih berusia cukup muda. Keduanya meledakkan bom yang ditempelkan di tubuhnya di depan gereja. Beruntung, ada Kosmas, seorang juru parkir gereja, yang menahan laju kendaraan motor yang digunakan keduanya, sehingga bom tidak meledak di dalam lokasi gereja. Jika itu sampai terjadi, tentu akan memakan korban jiwa jauh lebih banyak.



    Tak butuh waktu lama, aparat berhasil menemukan identitas pelaku bom bunuh diri tersebut, yang ternyata bagian dari jaringan salah satu kelompok teroris, yaitu Jamaah Ansharut  Daulah (JAD).



    Paradoks Agama



    Banyak pihak yang bereaksi dengan mengutuk kejadian tersebut, serta memberikan komentar. Ada yang menyebut, kejadian peledakan bom tersebut jangan dikaitkan dengan agama tertentu. Bahkan, ada pula tokoh yang menyatakan, pelaku teror bukanlah orang beragama.



    Tindakan pembunuhan, yang kemudian dikategorikan sebagai tindakan terorisme, sejatinya,  sangat berbeda dengan bentuk-bentuk tindakan kekerasan lainnya. Tindakan tersebut diakui sebagai pelakunya sebagai tindakan yang berlandaskan moral agama.



    Sebagai sebuah fakta sosial, agama tidak bisa dilepaskan dari variabel penganutnya yang memahami doktrin ajaran agama, membentuk kelompok keagamaan, serta adanya konstruksi ideologi yang dibela dan diperjuangkan. Pilihan melakukan bom bunuh diri tersebut, sangat jelas adalah pilihan ideologis yang didasarkan pada cara pandang keagamaan tertentu, yang doktrinnya telah tertanam kuat pada pelaku teror.



    Hal ini tergambar dalam surat wasiat, yang ditulis salah seorang pelaku peledakan bom di Gereja Katedral tersebut, kepada ibunya. Dalam surat yang ditinggalkannya, si pelaku menuliskan, “jalanku sebagaimana jalan nabi.rasul, untuk selamatkan ki dan bisa ki kembali berkumpul di surga.”



    Pelaku tidak menganggap tindakan yang dilakukannya itu tindakan konyol, melainkan meyakininya sebagai perjuangan di jalan agama. Tindakan teror sampai mengorbankan diri dipandang tindakan pengabdian keagamaan sempurna (Benjamin dan Simon, 2002).



    Tentu akan ada yang bertanya-tanya, mengapa ada orang menggunakan cara pandang agama, namun melakukan tindakan merusak? Bukankah ajaran agama pada intinya mengajarkan kasih-sayang dan kedamaian? Lantas, mengapa agama justru menjadi dasar dan legitimasi dari tindakan teror?



    Agama, pada faktanya, kerap menampilkan wajah berlawanan (paadoks). Atas nama agama, orang bukan hanya dapat terdorong untuk memberikan pelayanan tanpa batas kepada sesama. Namun, atas nama agama pula, orang rela dan tega menjadi pembunuh yang sangat keji. Atas nama agama, orang dapat memekikkan perang yang paling brutal, namun di saat yang lain, agama dapat menjadi jalan untuk menebarkan kedamaian paling sejati (Rakhmat, 2003).



    Mengapa sebagai fakta sosial, agama bisa menjadi sedemikian paradoks? Ya, tentu semuanya berpulang pada bagaimana cara keberagamaan masing-masing umat, yang cara keberagamaan tersebut merupakan akibat dari konstruksi pola keberagamaan yang dibentuk oleh pemahaman teologis terhadap agama (yang dianut).



    Fakta menunjukkan adanya keberagamaan yang paradoks tersebut. Ada yang beragama secara inklusif, eksklusif, dan moderat. Namun, tak sedikit pula yang radikal. Ada yang mempraktikkan agama sebagai jalan cinta, tetapi ada juga yang memperjuangkan agama sebagai jalan kekerasan yang nyata.



    Agama dan Kekerasan



    Johan Galtung (2002) memasukkan agama sebagai bagian dari enam wilayah yang menjadi basis munculnya kekerasan sosio-kultural. Pada gilirannya, agama difungsikan untuk melegitimasi kekerasan langsung dan kekerasan struktural.



    Terorisme merupakan salah satu bentuk kekerasan sosio-kultural yang difungsionalisasi dari pemahaman atas doktrin agama.



    David Rappoport (1982) menegaskan, sumber utama dari tindakan terorisme yang diyakini tindakan teror suci, adalah doktrin-doktrin agama. Sehingga merupakan suatu kesalahan jika dikatakan, kekerasan dan terorisme yang dilakukan atas nama agama pasti dimotivasi kepentingan-kepentingan lain (Scott, 2010).



    Alasan ketidakadilan ekonomi dan tujuan-tujuan yang bersifat politik, tentu tidak dinafikan sebagai dalih penguat atas tindakan teror yang dilakukan. Setidaknya, dalam tinjauan si pelaku teror, dasar dan motif utama tindakannya, adalah agama. Tindakan teror yang dilakukan dipandang sebagai satu-satunya jalan keluar yang memeroleh legitimasi dari doktrin agama.



    Kekerasan atas nama agama merupakan bentuk implementasi dari kognisi dan afeksi penganutnya sebagai capaian dari proses penghayatan dan internalisasi atas doktrin agama yang diyakininya, dan akhirnya memunculkan tafsir dan klaim kebenaran yang melegitimasi tindakan teror.



    St. Sunardi (1996) menggolongkan kekerasan agama ke dalam tiga tipe.



    Pertama, kekerasan intern agama. Kekerasan ini biasanya terjadi dalam agama tertentu.



    Kelompok agama yang mencoba melakukan kritik internal (sebagai usaha pembaharuan atau purifikasi) harus berhadapan dengan kelompok yang menghendaki status quo. Dari sinilah kemudian muncul kecenderungan gerakan radikalisme progresif dan radikalisme ortodoks, yang berujung pada relasi kekerasan akibat dari kebuntuan komunikasi.



    Kedua, kekerasan muncul ketika agama memandang dirinya berada di tengah-tengah masyarakat atau pemerintahan yang zalim. Karenanya, agama merasa memiliki tuntutan moral untuk melawannya, sebagaimana seruan “jihad”.



    Ketiga, kekerasan muncul ketika penganut agama merasa agamanya terancam oleh agama-agama lain. Dalam sejarah, ini merupakan kekerasan agama yang sangat memilukan. Tentunya, dengan tidak menafikan kedua tipe sebelumnya.



    Teologi Horor



    Bagi kita yang meyakini agama jalan kedamaian dalam memandang tindakan teror bermotif agama, memandangnya sebagai penafsiran dan perilaku menyimpang dari doktrin agama



    Mengapa dikatakan menyimpang? Sebab, ada pemahaman dan penafsiran atas doktrin agama yang dilakukan secara distortif sebagai bentuk nyata dari penyebab alasan agama melegitimasi tindakan teror.



    Perspektif teologis tentu tak bisa diabaikan dalam membaca tindakan teror yang dilakukan dengan atas nama agama. Karena, tindakan teror tersebut merupakan tindakan bermotif dan berorientasi teologis.



    Pada 2017, Buya Syafii Maarif pernah menyebut “teologi maut”, yaitu teologi yang memonopoli kebenaran dan menegasi keragaman. Menurut Buya Syafii, para penganut teologi ini berani menempuh jalan ekstrem, seperti mengakhiri hidup demi membela ajarannya. 



    “Teologi maut, berani mati tapi tidak berani hidup, memonopoli kebenaran, bahwa di luar kami haram”, tutur Buya Syafii.



    Teologi maut adalah teologi horor, yang klimaksnya adalah menebar teror, karena meyakini teror sebagai jalan perjuangan untuk menegakkan kebenaran monolitik, dan demi mengantarkan agamanya meraih kuasa hegemonik atas tatanan sosio-kultural.



    Pemahaman keagamaan yang literer, monolitik, dan monotafsir, menjadi basis epistemologi dari teologi horor tersebut. Klaim kafir, sesat, bidat, musyrik, dan thaghut dengan mudah akhirnya dilekatkan kepada kelompok yang berbeda haluan dengan mereka.



    Tentu saja tak berhenti sebatas klaim. Jika dimungkinkan tindakan kekerasan pun dilakukan demi menghabisi kelompok yang berbeda dari mereka. Dan tindakan tersebut, diklaimnya sebagai seruan perang suci.



    Semua agama pernah mengalami masa di mana sekumpulan penganutnya menganut teologi horor. Bahkan, dalam satu babakan sejarah, penganut teologi tersebut dapat menjadi sangat dominan.



    Kekristenan di zaman pertengahan pernah mengalami masa horor melalui para inkuisitor yang menebar teror. Akibatnya, banyak korban mati secara tragis, hanya karena sebuah tudingan, bahwa mereka keluar dari tafsir monolitik gereja.



    Sejarah Islam awal mengenal kelompok Khawarij sebagai kelompok keagamaan yang merepresentasikan teologi horor tersebut. Bagi kelompok Khawarij, setiap orang Islam yang berada di luar kelompok mereka adalah kafir, dan halal darahnya untuk ditumpahkan.



    Tak main-main, sahabat utama Nabi sekaliber Alibin Abi Thalib menjadi salah satu korban teologi horor mereka. Ali ditebas dengan pedang tajam beracun saat memimpin Salat Subuh di Masjid Kufah. Peristiwa tersebut terjadi justru di Bulan Ramadhan, bulan yang sangat disucikan dalam Islam. Ibnu Muljam, eksekutor pembunuh Ali, kala menebaskan pedang beracunnya, dengan lantang bersorak. “Wahai Ali kebenaran milik Allah, bukan milikmu dan milik sahabat-sahabatmu.”



    Dengan fasih, lisan Ibnu Muljam yang juga penghapal Al-Qur’an melantunkan ayat Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 207, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”



    Neo-Khawarij penganut teologi horor, kini masih banyak berkeliaran. Mereka bersedia melakukan tindakan teror sebagai bentuk perjuangan di jalan agama (jihad). Bahkan, bila perlu, sampai mengorbankan diri mereka sendiri, seperti yang dilakukan kedua pelaku peledakan Gereja Katedral di Makassar.




    Mengapa mereka siap menjemput maut melalui tindakan teror tersebut? Sekali lagi, karena doktrin keagamaan mereka yang menyatakan, bahwa dengan jalan tersebut, mereka akan mati syahid dan arwah mereka akan masuk surga yang disambut oleh 72 bidadari.




    Testimoni akhir dari tulisan ini, saya ingin menegaskan:



    “Terorisme memang tidak mewakili satu agama. Namun, terorisme tetaplah berkaitan dengan agama, karena tindakan mereka dimotivasi doktrin agama (yang mereka yakini), yang berasal dari doktrin teologi horor.” (*)



    Dr. Sabara Nuruddin

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini