• Jelajahi

    Copyright © Buser Indonesia

    Iklan

    Iklan

    Pemuda Desa Lobohede : Kerusakan Lingkungan Tanggung Jawab Bersama

    Minggu, 20 Desember 2020, Desember 20, 2020 WIB Last Updated 2020-12-22T00:12:07Z


    buser-indonesia.com - Sabu Raijua - Kerusakan lingkungan yang terjadi di Kabupaten Sabu Raijua menyebabkan munculnya persoalan multidimensi seperti kekurangan air bersih, kesehatan dan berbagai persoalan lainnya, sehingga  wacana merawat lingkungan secara kolektif menjadi hal mendesak untuk dilakukan.



    Dari hasil penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kawasan hutan NTT kemungkinan tinggal tersisa 5 sampai 6 % saja pada kurun waktu 2040 sampai 2050. Dengan begitu kemampuan kita menangkap air akan menurun drastis karena pohon-pohon untuk memproses air itu semakin habis akibat kerusakan hutan dan lahan. Hal tersebut akan memperparah ketersediaan air kita karena pulau-pulau kita di NTT ini 98 persen di antaranya sangat kecil.



    Hal ini yang menjadi alasan pemuda-pemudi Desa Lobohede untuk melaksanakan kegiatan penanaman pohon, Minggu (20/12/2020) bertempat di Desa Lobohede. 



    Kegiatan yang dikoordinir oleh Ferdin Ado, Edwar Bunga dan Komunitas Perawat Pulau bertujuan untuk menyadarkan semua umat manusia agar melihat dan menyadari akan kerusakan lingkungan yang dimulai dari tindakan menanam pohon di lingkungan masing-masing secara kolektif.



    Dalam siaran pers yang diterima media ini, Fendin Ado, mengatakan bahwa persoalan global seperti kerusakan lingkungan tidak dapat diatasi dengan dikerjakan secara sendiri-sendiri namun perlu dikerjakan dengan sudut pandang global dengan pendekatan kolektif.



    "Lingkungan hidup dan manusia ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, sehingga manusia tidak boleh berleha-leha dan hanya bisa mengekploitasi sumber daya alam dan absen terhadap upaya memelihara lingkungan hidup. Apabila tindakan memelihara tidak dilakukan, cepat atau lambat keberadaan manusia dapat terancam karena alam tidak lagi menyediakan sumber hidup bagi manusia," tulis Ferdin.



    Lebih lanjut, Ferdin menjelaskan bahwa dewasa ini ruang hidup manusia atau lingkungan hidup sedang menuju fase memburuk sehingga akan mengancam keberadaan manusia. Penyebab kerusakan lingkungan diakibatkan karena pembalakan liar atau illegal logging menjadi penyebab utama dari berkurangnya lahan hutan. 



    Hal ini didukung dengan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, total luas hutan di Indonesia saat ini mencapai 124 juta hektare. Namun, sejak 2010 sampai 2015, Indonesia kehilangan luas hutannya hingga 684.000 hektare per tahunnya. Fenomena tersebut berdampak langsung terhadap pemanasan global maupun menipisnya sumber air tanah.



    "Selain itu, dampak lainnya adalah distribusi sumber daya air (SDA) yang tidak merata sehingga kesulitan air bersih banyak dialami oleh sebagian besar masyarakat di Sabu Raijua," tutup  Ferdin. (Barto)

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini