• Jelajahi

    Copyright © Buser Indonesia

    Iklan

    Iklan

    Tim Forensik dan INAFIS Polres Rote Ndao Lakukan Rekontruksi Jenasah Korban

    Sabtu, 24 Oktober 2020, Oktober 24, 2020 WIB Last Updated 2020-10-24T22:39:45Z

    buser-indonesia.com-Rote Ndao-Indonesia Automatic Finger Print Identification System, (INAFIS), Kepolisian Resort, (Polres), Rote Ndao  melakukan rekontruksi terhadap jenasah korban pembunuhan, Melkias Patola,(57 tahun), di Tempat Kejadian Perkara,(TKP), di Lifusalanik Dusun Dasiosin II Desa Tunganamo Kecamatan Pantai Baru, pada Jumat, (23/10/2020), dari pukul 10.00 sampai dengan 15.30 wita.

    Dalam pergelaran rekontruksi, tersangka memperagakan sebanyak 32 adegan pembunuhan.


    Rekonstruksi mendapat pengamanan ketat dari personel kepolisian yang dipimpin langsung oleh KBO Satuan Reskrim Polres Rote Ndao Aiptu Stefanus Palaka, SH, didampingi oleh anggota Reskrim Polres Rote Ndao serta anggota Reskrim Polsek Pantai Baru.


    Dalam rekonstruksi,  tersangka Alexander Bulan memperagakan dari awal hingga menghabisi nyawa korban.

    Begitu juga dengan  kedua belas saksi, diantaranya, Trifosa Aufengo, Andrias Bauana, Petrus Bolla, Deby Agustinus Lima, Alfonsus Ndun, Nahsyun Lima, Arianus Aufengo, Beni Orias Bulan, Susi Susanti Sanu, Zet Oktovianus Pau, Herman Yohanis Hida dan Pentianus Ndapa Erang, mereka memainkan perannya masing-masing.


    Kepala Kepolisian Resort Rote Ndao, AKBP Felli Hermanto, S.IK, melalui Kasat Reskrim Polres Y. James Mba,u, S.Sos mengatakan Rekonstruksi dilakukan sebanyak 32 adegan untuk mencari kesesuaian keterangan para saksi dan fakta di lapangan.

    Selain itu, reka itu bertujuan untuk melengkapi berkas tersangka sekaligus mengetahui bagaimana tersangka menghabisi nyawa korban.


    Dalam rekontruksi tidak ditemukan tambahan barang bukti lainnya", ungkap mantan Kapolsek Lobalain ini.


    Trifosa Aufengo, isteri korban yang hadir di TKP mengatakan, sangat berterima kasih kepada pihak kepolisian, karena sudah bekerja keras dalam mengungkap kasus kematian suaminya.


    Menurut Trifosa Aufengo, secara manusia, pihak kelurganya tidak akan memaafkan perbuatan keji  tersangka dan menyerahkan proses hukumnya kepada  pihak kepolisian.

    ” Kami harap ada hukuman yang setimpal kepada pelaku atau hukuman mati,” tegasnya. *Elis





    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini