• Jelajahi

    Copyright © Buser Indonesia

    Iklan

    Iklan

    Diduga Kuat Pemdes Holoai Lakukan Pungutan Liar

    Jumat, 28 Agustus 2020, Agustus 28, 2020 WIB Last Updated 2020-09-04T14:08:38Z

    buser-indonesia.com-Rote Ndao-Diduga kuat pemerintah desa, (Pemdes), Holoai melakukan pemungutan liar di tempat wisata  mangrove karena tidak berlandaskan rujukan aturan. 


    Anggota Badan Pertimbangan Desa, (BPD), Hololai Adrianus Dalle dan Anderias Poy kepada awak media, mengaku memiliki Rancangan Peraturan Desa,  (Ranperdes), Tahun 2020, tentang pengelolaan wisata mangrove tetapi sejauh ini belum disahkan menjadi Peraturan Desa, (Perdes), sehingga retribusi tentunya belum dapat dilaksanakan.


    Ketua BPD, Desa Hololai Daniel O. Henuk, kepada media ini di Oemasi Desa Hololai, Rabu (26/08/2020), juga menambahkan, pemungutan retribusi tersebut belum diatur dengan perdes sehingga retribusi pada lokasi wisata tersebut belum ditetapkan karena belum adanya pertemuan antara pemerintah desa, bumdes dan UPT Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Rote Ndao.


    Menurut Henuk, wisata Mangrove merupakan aset yang dibangun oleh pemerintah provinsi melalui UPT Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan pengelolaannya belum diserahkan kepada desa  sesuai Perdes.


    Untuk itu, lanjut dia,  nilai dan besaran pungutan belum resmi ditetapkan. 


    "Sampai hari ini perdes masih berstatus ranperdes. Artinya BPD juga belum menandatangi perdes karena belum ada kesepakatan antara para pihak", jelasnya. 


    Ia Juga mengaku tidak mengetahui ranperdes telah ditandatangani oleh Kepala desa dan Sekretaris Desa Hololai sehingga sebagai BPD belum bisa mengakui kalau pungutan yang dilakukan oleh pihak pemerintah itu sah", tandasnya.


    “ Saya tidak nyatakan bahwa pungutan itu pungli atau tidak, tetapi peraturan tersebut masih berupa draf jadi itu tidak sah", akunya.


    Ketua Bumdes Desa Hololai Godlief Ndolu juga menuturkan sudah mengetahui adanya Perdes nomer : 6 Tahun 2020, tentang pengelolaan wisata mangrove Litianak di Desa Hololai. Namun untuk menjelaskan retribusi mengarahkan agar awak media langsung menanyakan kepada Kepala Desa Hololai.


    Kepala desa Hololai, Esau Loe, dikonfirmasi melalui sambungan whatsApp, Kamis (27/08/2020), malah meminta agar wartawan  menemui Ketua Bumdes guna mengetahui dan memastikan keabsahan perdes tersebut.


    “Datang bertemu langsung dengan ketua bumdes agar bisa mengetahui dan memastikan  dokumen persebut apakah sudah menjadi perdes atau masih ranperdes. Tetapi ikutan dari pernyataannya, dia kembali menjelaskan, kalau perdes tersebut sudah disahkan.


    Kepala UPT Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutahanan Kabupaten Rote Ndao. Nic A. Ndolu, S.Hut, melalui telepon selulernya Jumat (28/8/2020) 17:07 wita, mengatakan, pembangunan fisik dan penataan lokasi wisata mangrove Litianak menggunakan dana APBD Provinsi NTT Tahun anggaran 2019 dan pengelolaan masih dalam penanganan pihak Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutahanan Provinsi NTT melauli UPT Kab Rote Ndao dan hingga kin belum diserahkan kepada pihak lain termasuk desa.


    Kemudian, terkait retribusi atau biaya masuk ke lokasi wisata nangrove belum dilakukan karena masih dalam pembenahan lebih lanjut. 


    “Wisata mangrove Litianak masih dalam taraf pembenahan dan pekerjaan maka pemerintah desa belum bisa melakukan pungutan berupa karcis retribusi, baik kepada pengunjung pejalan kaki, Kendaraan roda dua maupun roda empat, “pungkas dia.


    Selanjutnya, dia juga mengaku pemerintah desa Hololai pernah meminta kepada UPT Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengelolah lokasi wisata tersebut namun belum mendapat izin persetujuam karena pemberian izin harus melalui proses dan mekanisme.


    Informasi yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, penagihan retribusi ke lokasi wisata mangrove sudah dilakukan sejak awal Agustus 2020, dengan harga yang dikenakan perorang . 1000 sampai dengan 2000 rupiah. Sedangkan untuk  kendaraan diminta per unit 5000 hingga 15.000 per kendaraan. Hasil pungutan dikelola oleh bumdes Desa Hololai. *jh/PE/Bob/memo

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini